Artikel
Ulat Grayak Jagung, Mengancam Produksi Jagung Nasional
Jagung merupakan komoditas yang sangat populer dan hampir seluruh masyarakat mengenal tanaman jagung. Jagung adalah salah satu tanaman pangan terpenting di dunia setelah padi dan gandum. Berbagai negara di dunia menjadikan jagung sebagai sumber karbodidrat utama seperti di Amerika Tengah dan Selatan. Amerika Serikat juga menjadikan jagung sebagai sumber pangan alternatif. Begitu juga di Indonesia, jagung menjadi salah satu alternatif sumber pangan dalam upaya mendorong diversifikasi pangan serta sebagai bahan baku pakan ternak.
Di Indonesia, jagung menjadi salah satu komoditas yang cukup strategis. Jagung banyak digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dipenuhi dari produksi nasional dan impor jagung karena kebutuhan jagung nasional belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi jagung nasional (Kementan 2016).
Peningkatan produksi jagung nasional terus diupayakan oleh pemerintah tiap tahunnya. Namun, upaya peningkatan produksi jagung nasional tersebut bukan tanpa hambatan. Banyak hambatan dalam upaya meningkatkan produksi jagung nasional. Selain keterabatasan dalam peningkatan luas lahan dan peningkatan produktivitas jagung. Salah satu hal yang dapat menurunkan produktivitas tanaman jagung yaiitu adanya kendala dalam budidaya tanaman seperti adanya serangan hama dan penyakit yang setiap tahun selalu menjadi kekhawatiran petani. Bahkan pada tahun 2019 ditemukan hama baru di Indonesia yang sangat berpotensi dalam menurunkan produksi padi nasional.

Hama Baru Tanaman Jagung di Indonesia
Awal tahun 2019, beberapa peneliti melaporkan ditemukannya hama baru tanaman jagung di daerah Pasaman Barat, Sumatera Barat. Hama baru tersebut adalah ulat grayak jagung Spodoptera frugiperda atau biasa disebut dengan Fall Army Worm (FAW). Hama FAW bisa dikategorikan sebagai invasive alien spesies karena merupakan spesies baru yang berasal dari luar Indonesia dan menyebar dengan cepat dan luas sehingga menimbulkan kerugian yang cukup serius.
FAW merupakan hama yang diduga berasal dari daerah Amerika Selatan dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. FAW kemudian ditemukan menginvasi daerah Afrika pada tahun 2016 dan outbreak di daerah India pada tahun 2018. Tahun 2019 FAW ditemukan di Bangladesh, China, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman jagung di Indonesia pada bulan Maret 2019 di daerah Pasaman Barat, Sumatera Barat. Tidak lama setelah hama ini pertama kali dilaporkan, FAW sudah banyak menginvasi sentra produksi jagung di Indonesia dan pada tahun 2020 sudah ditemukan di hampir seluruh sentra produksi jagung nasional.
Morfologi dan Siklus Hidup
FAW adalah serangga yang termasuk golongan Lepidoptera atau ngengat yang memiliki beberapa ciri khusus yang membedakan dari golongan Lepidoptera lainnya. FAW memiliki morfologi yang hampir menyerupai Spodoptera litura tetapi memiliki beberapa perbedaan seperti:
1. Huruf “Y” terbalik di bagian kepala.
2. Memiliki empat titik membentuk segiempat dibagian ekor.
3. Garis tebal seperti pita dibagian samping tubuh.
4. Garis berwarna pucat di bagian badan atas.

Ulat grayak jagung,
Spodoptera frigiperda (Fall Army Worm)
Siklus Hidup
FAW merupakan serangga dengan metamorfosis tidak sempurna (holometabola) yang terdiri dari telur, larva, pupa dan imago. Imago FAW berupa ngengat yang memiliki bagian depan sayap berwarna coklat atau keperakan dan sayap belakang berwarna keputihan. Ngengat biasanya aktif terbang pada sore – malam hari. Telur FAW diletakkan secara berkelompok dan diselimuti rambut- rambut halus. Telur tersebut akan menetas menjadi larva setelah kurang lebih 3 hari. Larva yang baru menetas akan bersembunyi di pucuk tanaman dan sangat aktif makan. Stadia larva berlangsung kurang lebih 14 hari dan setelah itu larva akan menjadi pupa. Stadia pupa berlangsung selama kurang lebih 10 hari dan kemudian akan kembali menjadi imago. Seluruh siklus hidup FAW berlangsung kurang lebih selama 30 hari.
Gejala Serangan dan Kerugian
FAW merupakan hama yang sangat merugikan bagi tanaman jagung karena dapat menyerang pucuk, daun dan tongkol. Larva instar 1-4 akan menyerang titik tumbuh tanaman dan akan menyebabkan pucuk tanaman terpotong dan daun berlubang. Larva instar 5-6 dapat menyerang tongkol jagung karena memiliki ukuran tubuh yang lebih besar. Serangan FAW dapat menyebabkan penurunan produksi jagung 21-51% dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen.

Daun berlubang terserang FAW
Pengendalian
Ulat grayak jagung dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa pengendalian seperti pengendalian secara kultur teknis, fisik-mekanis, biologis dan kimiawi. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pergiliran tanam, penggunaan tanaman penghalang, sanitasi lahan dan tanaman terserang. Pengendalian secara fisik-mekanis dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami yang ada di lapangan. Beberapa musuh alami yang ditemukan di lapangan dan dapat mengendalikan FAW yaitu parasitoid telur Telenomus sp. dan Trichogramma sp., serta parasitoid larva Glyptapanteles creatonoti dan Campoletis chlorideae.
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan memanfaatkan insektisida Provide-X 21/45 SC yang berbahan aktif Emmamektin Benzoat + Beta Sipermetrin dengan konsentrasi 1 ml/l. Pengendalian FAW akan lebih efektif jika aplikasi insektisida dilakukan di pucuk tanaman jagung dengan butiran semprot yang kecil dan berkabut karena akan lebih mudah menjangkau hama yang bersembunyi di dalam pucuk tanaman jagung.
.png)
Provide-X 21/45 SC
(Emamektin Benzoat 21 g/l + Beta Sipermetrin 45 g/l)
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Jagung. Jakarta (ID): Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian.
De Groote H, Kimenju SC, Munyua B, Palmas S, Kassie M, Bruce A. 2020. Spread and impact of fall armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) in maize production areas of Kenya. Agriculture, Ecosystems and Environment. 292(2020):1-10. doi:10.1016/j.agee.2019.106804.
Shylesha AN, Jalali SK, Gupta A, Varshney R, Venkatesan T, Shetty P, Ojha R, Ganiger PC, Navik O, Subaharan K, Bakthavatsalam N, Ballal CR. 2018. Studies on new invasive pest Spodoptera frugiperda (Smith) (Lepidoptera: Noctuidae) and its natural enemies. Journal of Biological Control. 32(3). doi:10.18311/jbc/2018/21707.
Demikian Ulat Grayak Jagung, Mengancam Produksi Jagung Nasional.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh Sobat Tani dimanapun berada.
Salam DGW (Sukses Bersama Petani)
PRODUCT DEVELOPMENT TEAM -
17 September, 2020
Petani Kentang Tanah Karo Akui Keungggulan Nutrisi Tanaman
Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu daerah sentra penghasil kentang di Sumatera. Komoditi kentang banya ditanami di daerah ini karena produksi yang tinggi di bawah kondisi iklim daerah tersebut. Hasil produksi kentang Tanah Karo sudah dipasarkan di dalam negeri sampai ke luar negeri yaitu Malaysia dan Singapura (karokab.go.id).
Pak Alektra, seorang petani kentang di Kabupaten Tanah Karo bercerita pengalamannya sejak menggunakan paket nutrisi tanaman DGW pada acara Farmers Field Day yang diadakan PT DGW di areal lahan kentang miliknya di Desa Ujung Bandar, Barus Jahe. Beliau bercerita sejak menggunakan nutrisi tanaman DGW dimana produk pertama yang digunakan adalah LEILI 2000 dan ROOTMOST. Kedua produk ini digunakan ketika kentang mulai tumbuh dan keluar tunas (masa vegetatif). Hasil yang didapatkan setelah menggunakan produk tersebut tunas jadi lebih sehat dan akarnya kuat. Ketika memasuki umur 60 hari (masa generatif) nutrisi yang digunakan adalah ASTONISH. ASTONISH digunakan beliau dengan tujuan untuk membesarkan umbi dan menambah bobot umbi kentang tersebut. Beliau menambahkan hasil panen dari kentang yang menggunakan ASTONISH merupakan kentang super karena ukurannya umbinya yang besar dan berat. Kentang super ini akan dapat nilai jual lebih dikarenakan masuk komditas ekspor.
Farmers Field Day merupakan kegiatan lapangan rutin yang diadakan dan difasilitasi oleh PT DGW sebagai bentuk pendampingan petani. Kegiatan lapangan ini merupakan kegiatan mengumpulkan petani di suatu lahan dengan tujuan berbagi pengalaman dan transfer teknologi antar petani dan dari ahli-ahli terkait. Acara FFD ini dihadiri oleh lebih dari 50 petani yang datang dari berbagai daerah di tanah Karo. Hadir pula di acara tersebut perangkat desa, tetua adat, dan petugas penyuluh lapangan (PPL) dari beberapa desa sekitar. PPL yang hadir sangat mengapresiasi kegiatan ini karena dapat memberikan ilmu tambahan kepada petani sehingga petani dapat melakukan praktek budidaya yang lebih baik kedepannya.
PT DGW yang diwakili oleh Pak Cristian sebagai sales supervisor wilayah Tanah Karo dan sekitarnya menjelaskan secara lengkap mengenai fungsi dan cara penggunaan paket nutrisi tanaman tersebut. Beliau menyampaikan PT DGW mempunyai paket nutrisi lengkap untuk tanaman kentang mulai dari sebelum tanam sampai menjelang panen. Di samping itu PT DGW juga siap untuk mendampingi petani pengguna produk DGW dalam berbudidaya kentang ataupun tanaman-tanaman yang lain. Dengan adanya 3 orang petugas lapangan di Kabupaten Tanah Karo diharapkan pendampingan yang dilakukan ke petani menjadi maksimal.
Berikut cara aplikasi paket lengkap nutrisi tanaman untuk tanaman kentang:
1. ROOTMOST dan LEILI 2000
- Fungsi: memacu pertumbuhan akar dan tunas serta menjaga tanaman tetap sehat.
- Waktu aplikasi pada tanaman kentang umur 7, 14, 21, dan 30 hari (vegetatif).
- Konsentrasi ROOTMOST 1 ml/L dan LEILI 2000 2 ml/L

.png)
2. ASTONISH
- Fungsi: memjadikan umbi lebih besar dan berbobot.
- Waktu aplikasi pada tanaman kentang umur 60, 65, 70, 75 hari (generatif)
- Konsentrasi 2 ml/L

Sebelum acara FFD usai, Pak Alektra menyampaikan harapannya sebagai petani kentang di Tanah Karo. Beliau menginginkan petani-petani kentang di Tanah Karo ini lebih maju ke depan dan dapat bersaing dari segi hasil dan teknologi dengan petani kentang di daerah lain.
Demikian Petani Kentang Tanah Karo Akui Keungggulan Nutrisi Tanaman.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh Sobat Tani dimanapun berada.
Salam DGW (Sukses Bersama Petani)
PRODUCT DEVELOPMENT TEAM -
14 September, 2020
Mengenal 4 Penyebab Hampa Gabah dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Padi
Halo Sobat Tani, pada kesempatan kali ini kita bakal ngebahas 4 penyebab kenapa tanaman padi kita bisa menghasilkan gabah yang hampa atau kosong. Selain itu tentunya kita bakal memberikan solusi untuk menangani hampa gabah tersebut agar tanaman padi Sobat Tani tetap sehat dan tidak lagi menghasilkan gabah hampa. Yuk cek apa saja penyebabnya!
1. ULAT PENGGEREK BATANG

Wah mungkin sobat tani sudah kenal banget sama hama ulat penggerek batang ini. Keberadaan ulat penggerek batang pada tanaman padi dapat menurunkan hasil panen hingga 60% loh. Hal ini dikarenakan ulat penggerek batang akan melubangi bagian pelepah daun dan juga batang padi sehingga tidak adanya aliran nutrisi ke daun dan juga malai padi. Gejala yang ditimbulkan pada fase vegetative berupa sundep sedangkan pada fase generative berupa beluk atau hampa gabah. Gejala hampa gabah ini dicirikan dengan malai padi yang mudah tercabut.
Hama penggerek batang ini memiliki siklus hidup yang sempurna, mulai dari telur, ulat, kepompong dan juga ngengat. Nah oleh karena itu pengendalian ulat penggerek batang, Sobat Tani perlu memperhatikan sasaran yang mau dikendalikan.
Kunci sukses dalam mengatasi hama ulat penggerek batang yaitu dengan melakukan pencegahan munculnya ulat penggerek batang. Sobat tani bisa mengendalikan ngengat dan juga telur hama penggerek batang dengan menggunakan KLENSECT untuk mengendalikan ngengatnya dan DANGKE untuk mengendalikan telur. Nah untuk mengendalikan ulatnya Sobat Tani bisa menggunakan BALISTIC/PENALTY sebagai racun sistemik yang mampu mengendalikan ulat penggerek batang yang bersembunyi di dalam tanaman.
2. WALANGSANGIT

Selain penggerek batang walang sangit pun dapat menyebabkan hampa gabah. Walang sangit akan menghisap isi bulir padi yang sedang mengalami proses pengisian malai, mulai dari tahap pra pembungaan hingga tahap gabah setengah matang sehingga bulir padi menjadi tidak terisi dan hampa. Sehingga hama walang sangit merupakan hama yang menyebabkan kerusakan paling parah selama tahap pengisian bulir.
Walang sangit memiliki bentuk tubuh ramping dan bau yang tidak enak. Biasanya penanaman padi yang tidak serempak dapat mendukung tingginya tingkat populasi walang sangit.
Untuk melakukan mencegah terjadinya kerugian yang dapat ditimbulkan oleh walang sangit maka Sobat Tani perlu mengendalikannya nih. Berikut cara pengendaliannya:
1. Melakukan penanaman secara serempak
2. Kendalikan gulma yang dapat dijadikan inang alternatif oleh walang sangit
3. Gunakan jaring untuk menangkap walang sangit
4. Gunakan Insektisida DANGKE secara tepat dan bijak
3. PATAH LEHER

Patah leher merupakan penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh berkembangnya jamur Pyricularia grisea. Jamur Pyricularia grisea menyerang keseluruhan fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari pesemaian hingga menjelang panen. Pada saat fase vegetatif jamur ini mengakibatkan serangan Blas Daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun berwarna kekuningan yang berbentuk belah ketupat . Semakin lama bercak semakin membesar dan berubah warna menjadi kecoklatan. Sedangkan pada fase generatif itu jamur ini menyebabkan patah leher sehingga menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher/patah leher). Cara membedakan antara patah leher dengan beluk yaitu dengan mencabut bagian malai, apabila malai mudah tercabut hampa gabah tersebut disebabkan oleh hama penggerek batang dan apabila tidak mudah dicabut maka disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea.
Beberapa rekomendasi pengendalian di antaranya:
1. Menggunakan benih sehat atau bersertifikat
2. Menyingkirkan sisa tanaman padi dari lahan
3. Mengendalikan gulma-gulma pada lahan
4. Cegah dan kendalikan serangan dengan menggunakan fungisida EXPLORE
4. BUSUK PELEPAH

Busuk pelepah merupakan penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani. Jamur ini mampu bertahan pada sisa-sisa tanaman padi yang mampu menyebabkan serangan pada penanaman berikutnya.
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh jamur ini yaitu munculnya bercak-bercak berwarna abu dengan tepi coklat. Pelepah daun yang terserang memperlihatkan pertumbuhan jamur seperti tepung berwarna keputihan pada bagian yang terserang. Kemudian pada saat padi mulai melakukan pengisian malai, jamur ini akan menyebabkan malai padi tidak terisi (hampa) dan menyebabkan perubahan warna pada malai menjadi merah kecoklatan.
Beberapa rekomendasi pengendalian di antaranya:
1. Menggunakan benih sehat atau bersertifikat
2. Menyingkirkan sisa tanaman padi dari lahan
3. Mengendalikan gulma-gulma pada lahan
4. Cegah dan kendalikan serangan dengan menggunakan fungisida EXPLORE
PRODUCT DEVELOPMENT TEAM -
15 Agustus, 2020
Fakta - Fakta Keong Mas, Hama Tanaman Padi dan Cara Pengendaliannya
Keong mas tentunya sudah sangat familiar di masyarakat Indonesia apalagi bagi petani padi. Keong mas atau dibeberapa daerah disebut keong murbei atau siput murbai merupakan salah satu hama yang dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman padi. Hama ini banyak menyerang tanaman padi di Asia seperti Malaysia, Filipina, Jepang, Vietnam dan Indonesia. Di Indonesia sendiri hama keong mas sudah menyebar di banyak sentra produksi padi nasional. Kerugian yang dapat disebakan oleh keong mas bisa sangat tinggi. Terutama jika serangan terjadi pada tanaman muda. Jika tanaman padi terserang keong mas perlu dilakukan replanting (penanaman kembali). Tentunya hal tersebut akan sangat merugikan karena selain perlu biaya tambahan untuk penanaman kembali juga petani dirugikan dari segi waktu. Oleh karena itu perlu pemahaman lebih mengenai keong mas sehingga pengendalian yang dilakukan tepat dan kerugian dapat diminimalisir.

Peta persebaran keong mas di seluruh dunia (Sumber: CABI 2014)
Asal Muasal Keong Mas
Keong mas merupakan hewan asli Amerika Selatan yang pada awalnya didatangkan ke Indonesia secara sengaja. Keong mas memang didatangkan dengan sengaja namun tentunya bukan dengan niatan untuk merusak pertanian bangsa ini. Sekitar tahun 1984 - 1986 keong mas didatangkan dari Filipina, Cina, dan Singapura oleh penggemar ikan hias sebagai hiasan akuarium. Kemudian orang – orang tertarik untuk membudidayakan keong mas tanpa tahu potensinya sebagai hama. Telur dan keong mas yang menetas dapat terbawa aliran air atau menempel pada tumbuhan air dan terbawa ke daerah persawahan dan perairan tawar lainnya seperti sungai, rawa, dan danau. Kegiatan manusia yang memanfaatkan keong sebagai pakan ternak (lele, itik) dan sebagai penghias dalam akuarium, membuat keong mas diperdagangkan secara bebas dan berdampak pada sebarannya yang meluas. Sekarang setelah 34-36 tahun didatangan ke Indonesia, keong mas sudah tersebar secara meluas di berbagai habitat seperti rawa-rawa, kolam, saluran irigasi, danau dan sawah.

Sumber: Dokumentasi Tim Marketing DGW
Kemampuan Reprouksi (Berkembang Biak) Yang Tinggi
Keong mas memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Keong mas betina dapat meletakkan telur sehari setelah kawin. Biasanya keong mas kawin pada malam hari. Seekor keong mas betina dewasa dapat menghasilkan 200-300 butir telur per minggu dan dapat mencapai 8000 butir telur per tahun. Telur keong mas berwarna merah muda dan diletakkan secara berkelompok sekitar 20 cm di atas permukaan air pada batang padi, gulma, dinding beton saluran air atau benda- benda lain yang dapat ditemui di sekitar tempat keong mas berkembang biak. Satu kelompok telur biasanya berisi ratusan telur keong mas. Telur tersebut akan menetas setelah 12-18 hari tergantung kondisi cuaca tempat meletakkan telur. Persentase telur yang menetas juga cukup tinggi yaitu sekitar 80-95%. Siklus hidup dari telur diletakkan, menetas dan kemudian bertelur kembali berlangsung sekitar 60 hari. Selain itu keong mas juga memiliki masa hidup yag cukup lama yaitu dapat bertahan hidup hingga 3 tahun dan dapat melakukan dormansi ketika kondisi kurang menguntungkan.
Habitat Dan Pola Distribusi Keong Mas
Keberadaan keong mas di suatu daerah sangat dipengaruhi karakter habitatnya seperti faktor fisik, kimia, dan ketersediaan makanan bagi keong mas di tempat tersebut. Keong mas biasanya ditemukan di lapangan secara berkelompok. Keong mas menyukai tempat yang berlumpur dengan suhu perairan sekitar 24oC sampai 27oC dan pH air sekitar 6.0 – 6.8. Keong mas juga banyak ditemukan di daerah perairan yang didominasi tumbuhan seperti teratai, telepok, eceng gondok dan kangkung air karena keong mas menyukai tempat teduh dengan banyak naungan.
Kemampuan Makan Keong Mas
Keong mas merupakan hewan yang sangat polifag atau menyerang banyak jenis tanaman. Keong mas lebih menyukai tumbuhan yang masih muda karena memiliki tekstur yang lebih lunak. Kemampuan makan keong mas juga sangat tinggi. Satu individu keong emas dewasa dapat menghabiskan bibit padi (1 HST) dalam 3-5 menit. Bibit padi yang baru berusia 2 minggu merupakan bibit yang rentan terhadap serangan keong emas dengan kerugian bisa mencapai 73% dalam waktu 48 jam.
Pengendalian Keong Mas
Pengendalian keong mas dapat dilakukan dengan memadukan beberapa teknik pengendalian yang biasanya disebut pengendalian hama terpadu. Berikut pengendalian yang keong mas yang dapat diterapkan di lapangan:
- Pengendalian manual dengan cara mengumpulkan keong satu persatuan
- Pengendalian dengan menggunakan daun sebagai atraktan keong mas seperti daun pepaya. Ketika keong sudah terkumpul pengendalian secara manual akan lebih mudah dilakukan
- Pemasangan batang/ ajir bambu di daerah persawahan dengan tujuan untuk menarik keong meletakkan telur di bambu tersebut. Telur yang diletakkan di ajir bambu tersebut akan lebih mudah dikendalikan
- Menjaga kedalaman air (2-3 cm) setelah tanam untuk mencegah/ mengurangi pergerakan keong mas - Melepasan itik / bebek ke sawah karena merupakan musuh alami bsgi keong mas
- Pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan moluskisida cenderung banyak dilakukan karena lebih efektif dan efeknya akan lebih cepat terlihat sehingga dapat mencegah kerugian yang semakin besar.

Bahan aktif yang dapat dilakukan untuk mengendalikan keong mas yaitu fentin asetat, niklosamida, metaldehida dan saponin. Moluskisida yang paling banyak digunakan untuk mengendalikan keong mas dilapangan memiliki bahan aktif fentin asetat. Salah satu moluskisida tersebut yaitu BESTNOID 60 WP / ANILO 60 WP dari DGW.
BESTNOID 60 WP / ANILO 60 WP RAJANYA RACUN KEONG !!!
Sumber:
CABI. 2014. Pomacea canaliculata (golden apple snail). [internet]. Diakses pada 2020 Juni 29. Tersedia pada: https://www.cabi.org/isc/datasheet/68490#toDistributionMaps. Dharmawati S, Widaningsih N, Firahmi N. Biologi keong rawa (Pomacea glauca dan Pomacea canaliculata) di perairan rawa Kalimantan Selatan. Media Sains. 9(1):105-109. Isnaningsih NR. Marwoto RM. 2011. Keong hama Pomacea di Indonesia: karakter morfologi dan sebarannya (Mollusca, Gastropoda: Ampullariidae). Berita Biologi. 10(4):441-447. Marwoto RM, Isnaningsih NR, Joshi RC. 2018. The invasive apple snail (Pomacea spp) in Indonesia. Agriculture for Development. 35 (5): 41-48. Saputra K, Sutriyono, Brata B. 2018. Populasi dan distribusi keong mas (Pomacea canaliculata L.) sebagai sumber pakan ternak pada ekosistem persawahan di Kota Bengkulu. Jurnal Sain Peternakan Indonesia. 13(2):189-201. doi: https://doi.org/10.31186/jspi.id.13.2.189-201.
PRODUCT DEVELOPMENT TEAM -
28 Juli, 2020



